OKU Timur – Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa dampaknya di pasar elektronik dan gadget dalam negeri. Sejumlah pelaku usaha mengaku penjualan mengalami perlambatan karena konsumen kini lebih berhati-hati saat membeli barang elektronik, terutama produk impor seperti smartphone, laptop, hingga konsol game.
Dalam beberapa pekan terakhir, kurs dolar AS terus bergerak naik. Kondisi ini membuat biaya impor barang elektronik ikut meningkat. Maklum saja, sebagian besar komponen gadget masih bergantung pada transaksi dolar Amerika.
Akibatnya, harga jual di tingkat retail ikut terkerek. Beberapa toko elektronik bahkan mulai menyesuaikan harga untuk produk-produk tertentu, terutama yang baru masuk ke Indonesia.
“Kalau dolar naik, biasanya distributor juga revisi harga. Konsumen jadi mikir dua kali buat upgrade gadget,” ujar salah satu pedagang elektronik di kawasan pusat perbelanjaan Jakarta.
Fenomena ini paling terasa di segmen smartphone kelas menengah ke atas. Banyak calon pembeli yang akhirnya memilih menunda pembelian atau beralih ke produk dengan spesifikasi lebih rendah agar tetap sesuai budget.
Tidak cuma smartphone, harga laptop gaming, kamera digital, hingga aksesoris seperti smartwatch dan TWS juga mulai mengalami kenaikan bertahap. Bahkan beberapa produk yang stoknya terbatas mengalami lonjakan harga lebih cepat karena biaya impor dan distribusi ikut naik.
Di sisi lain, kondisi ini justru memunculkan tren baru di kalangan konsumen. Pasar gadget bekas mulai ramai diburu karena dianggap lebih “aman” di tengah harga produk baru yang makin mahal. Banyak pembeli kini lebih memilih perangkat second dengan kondisi bagus dibanding memaksakan membeli unit baru.
Sejumlah toko online juga mulai gencar memberikan promo cicilan dan cashback untuk menjaga daya beli masyarakat. Strategi ini dilakukan agar penjualan tetap bergerak meski kondisi pasar sedang tidak stabil.
Pengamat ekonomi menilai pelemahan rupiah memang hampir selalu berdampak langsung pada industri elektronik. Sebab, sektor ini sangat bergantung pada impor bahan baku dan produk jadi. Jika kurs dolar terus menguat dalam waktu lama, maka bukan tidak mungkin harga gadget akan kembali naik dalam beberapa bulan ke depan.
Bagi konsumen, situasi seperti ini membuat keputusan membeli gadget jadi lebih penuh pertimbangan. Banyak yang kini mulai fokus pada kebutuhan utama dibanding sekadar mengikuti tren teknologi terbaru.
Meski begitu, minat masyarakat terhadap gadget diperkirakan tetap tinggi. Hanya saja, pola belanjanya berubah: lebih selektif, lebih sensitif terhadap harga, dan lebih aktif mencari promo.
